JENIS-JENIS KERUSAKAN PADA PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN CAMPURAN BERASPAL
Jenis-jenis
kerusakan pada pekerjaan Beton Bertulang dan Jelaskan juga upaya penanganan
terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi pada Pek.
Beton Bertulang
A. Tulangan sudah luluh
bila kondisi tulangan kolom sudah luluh dan
tidak terlalu parah sehingga bangunan tidak miring, tulangan yang rusak bisa
dipotong dan diganti dengan tulangan baru. Periksalah apakah tulangan yang ada
di kolom itu cukup aman menahan beban atau belum. Bila sudah cukup kuat,
langkah perbaikannya adalah sebagai berikut.
1.Tahan
beban kolom yang akan diperbaiki dengan kayu atau besi.
2.Bongkarlah beton yang masih melekat di
sekitar tulangan yang luluh.
3.Besi yang luluh dipotong lalu diganti dengan
tulangan baru. Perhatikan sambungan tulangan baru dengan tulangan yang lama.
Sebaiknya tulangan lama menindih (overlaping) tulangan baru dengan panjang
sama. Jika diameter tulangan 12 mm, maka panjang overlaping tulangan sekitar
480 mm. Setelah itu, ikatlah sambungan dengan kawat atau las.
4.Pasanglah bekisting di sekitar kolom yang
diperbaiki. Setelah itu, masukkan material beton dengan mutu beton sesuai
dengan kualitas mutu beton yang lama atau bisa juga dengan material khusus
untuk perbaikan beton.
B. Tulangan belum luluh
Kerusakan dengan kondisi tulangan belum luluh
yang kerap terjadi adalah retak, beton hancur sebagian, dan selimut beton
terlepas. ada tiga metode perbaikan, yaitu patching (plester), grouting
(menambah dengan campuran beton dan aditif), dan injection (suntik dengan bahan
kimia). Berikut proses perbaikan berdasarkan jenis kerusakannya.
1.Retak Jika permukaan kolom atau balok retak,
langkah pertama yang dilakukan adalah mengecek apakah keretakan itu ada pada
selimut beton atau pada “daging” beton. Keretakan pada selimut beton bisa
diatasi dengan menambal keretakan (patching) menggunakan bahan material
perbaikan struktur berbahan dasar polymer. Atau bisa juga menggunakan campuran
semen dan air. Bila ternyata keretakan ada pada “daging” beton, maka metode
perbaikannya bisa menggunakan metode grouting atau injection. Proses pengerjaan
metode grouting adalah dengan membongkar retakan hingga dasar retakan atau
sampai terlihat daging betonnya. Pastikan beton yang ada di sekeliling retakan
tidak rontok. Setelah itu, tuang material perbaikan struktur berbahan dasar
semen pada celah retakan. Sebaiknya gunakan bounding agent (bahan seperti lem)
untuk mempermudah proses perekatan antara beton lama dan material perbaikan
struktur. Bounding agent bisa juga diganti dengan air. Siram air pada permukaan
beton lama pada celah retakan. Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan
informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Sedangkan
proses metode injeksi dimulai dengan menutup permukaan retakan menggunakan
material berbahan epoxy. Setelah itu, buatlah lubang di sepanjang retakan
dengan jarak antarlubang sekitar 25 cm dan tutuplah lubang dengan selang karet.
Masukkan material perbaikan struktur berbahan dasar epoxy ke dalam selang
karet. Jika material itu keluar pada salah satu selang karet, maka segera tutup
lubang selang itu. Masukkan kembali material epoxy ke lubang yang lain. Ulangi
proses itu hingga semua selang karet tertutup. Jika semua selang karet
tertutup, ini berarti semua celah pada retakan sudah terisi material epoxy.
2. Beton hancur sebagian Untuk memperbaikinya,
metode yang digunakan adalah metode grouting. Proses perbaikan untuk kerusakan
kolom adalah sebagai berikut: - Tahan beban kolom dengan memberi kayu atau besi
di sekeliling kolom. - Bersihkan beton yang masih menempel di sekeliling
pecahan beton. Ketuk di sekeliling pecahan untuk memastikan sudah tidak ada
lagi beton yang bisa terkelupas. - Buatlah bekisting di sekeliling kolom. - Cor
kembali bagian kolom yang terkelupas tadi dengan campuran beton dan bahan
aditif. Bila tidak mau repot, saat ini di pasaran sudah tersedia material yang
siap pakai untuk memperbaiki struktur. Material yang berbahan dasar semen ini
dikenal dengan nama cemen grout.
3. Selimut beton terkelupas Kerusakan seperti
ini tergolong kerusakan kosmetik. Maksudnya, hanya penampilannya saja yang
rusak. Untuk memperbaikinya, metode yang tepat adalah dengan metode patching.
Caranya adalah sebagai berikut:
-
Bersihkan atau lepas selimut beton yang masih menempel di sekitar selimut beton
yang terkelupas.
- Lapisi permukaan beton yang terkelupas
dengan bounding agent. - Berikan adukan plesteran khusus untuk perbaikan
struktur pada permukaan beton yang terkelupas.
C. Retak
(cracks)
adalah
pecah pada beton dalam garis-garis yang relatif panjang dan sempit, retak ini
dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab: diantaranya : evaporasi air dalam
campuran beton terjadi dengan cepat akibat cuaca yang panas, kering atau
berangin. Retak akibat keadaan ini disebut plastic cracking, Bleeding yang
berlebihan pada beton, biasanya akibat proses curing yang tidak sempurna.
Retakan bersifat dangkal dan saling berhubungan pada seluruh permukaan pada
plat, retak jenis ini disebut crazing.
D. Voids
adalah
lubang-lubang yang relatif dalam dan lebar pada beton. Void pada beton dapat
ditimbulkan oleh berbagai sebab: diantaranya :Pemadatan yang dilakukan dengan
vibrator kurang baik, karena jarak antar bekisting dengan tulangan atau jarak
antar tulangan terlalu sempit sehingga bagian mortar tidak dapat mengisi rongga
antara agregat kasar dengan baik. Void yang terjadi berupa lubang-lubang tidak
teratur yang disebut honey combing. Bocor pada bekisting yang menyebabkan air
atau pasta semen keluar, akan lebih parah jika campuran banyak mengandung air,
atau banyak pasta semen atau gradasi agregat yang kurang baik. Keadaan ini
disebut sand streaking
E. Scalling/spalling/erosion
adalah kelupasan dangkal pada permukaan, yang dapat ditimbulkan oleh
beberapa sebab, diantaranya: Eksposisi yang berulang-ulang terhadap pembekuan
dan pencairan sehingga permukaan terkelupas, keadaan ini disebut scalling
Melekatnya material pada permukaan bekisting sehingga permukaan beton terlepas
dalam kepingan atau bongkah kecil, keadaan ini disebut spalling Terlepasnya
partikel-partikel sehalus debu yang dapat terdiri dari semen yang sangat halus
atau agregat yang sangat halus, terlepas akibat abrasi misalnya saat lantai
disapu, hal semacam ini disebut dusting.
Jenis-jenis Material
untuk perbaikan
Material-material
yang Cementitious
Material
ini berkisar dari mortar dan grout serta beton yang konvensional sampai kepada
material dengan sifat-sifat yang diperbaiki sesuai kebutuhan dengan menggunakan
admixtures. Penggunaan admixtures antara lain dapat menghasilkan sifat-sifat
kohesif, pencapaian kekuatan secara cepat, kelecakan yang lebih tinggi, daya
tahan terhadap tercucinya semen dan pengurangan bleeding serta susut. Material
perbaikan yang termasuk dalam jenis ini antara lain:
- Beton, mortar atau
grout, beton terutama digunakan untuk penggantian total penampang atau untuk
memperbaiki rongga-rongga yang dalam sampai melalui tulangan beton. Sedangkan
mortar dapat digunakan untuk perbaikan rongga-rongga sampai sekecil 4 cm. Grout
memiliki keuntungan karena bersifat encer dan dapat dipompa sampai kebagian
yang tidak terlihat sekalipun, namun grout memiliki kandungan air yang tinggi
dan konsekuensinya mengalami penyusutan lebih besar besar dibanding mortar atau
beton. - Beton, dan mortar yang dimodifikasi dengan menambahkan latex,
merupakan material perbaikan yang sangat berguna untuk melapisi kembali
permukaan lantai bangunan atau lantai jembatan yang rusak.Material seperti ini
dikenal dengan sebutan beton latex (latex concrete) atau latex-modified
concrete dan pada akhir-akhir ini sering dikenal sebagai polimer modified
concrete. (Material ini harus dibedakan dari polymer concrete yang mengandung
polimer yang tidak ditambahkan dalam bentuk latex.. - Beton, mortar atau grout
yang dimodifikasi dengan menambahkan polimer, polimer ditambahkan sebagai
matrik memiliki beberapa keuntungan bagi pekerjaan perbaikan,
keuntungan-keuntungan ini meliputi: kekuatan yang tinggi pada umur dini,
kemampuan untuk dicor pada temperature dibawah titik beku memiliki kekuatan
lekat yang baik, durabilitas yang tinggi walaupun bila harus digunakan pada
kondisi yang akan merusak beton biasa. Sebagai polimer biasanya digunakan
epoxy, polyurethane, unsaturated polyester, methyl methacrylate dan lain-lain.
Beton, mortar atau grout yang harus memiliki sifat tertentu untuk suatu tipe
perbaikan dapat dibuat menggunakan semen khusus misalnya semen dengan kandungan
alumina yang tinggi akan me galami setting dalam 2 s.d 4 jam dan dapat mencapai
kuat tekan sebesar 22 Mpa dalam 6 jam. Beton, mortar atau grout yang dibuat
dengan bahan ini memiliki daya tahan terhadap perusakan asam, sulfat, alkali,
air laut dan minyak. Semen Portland tipe III yang dipakai dengan accelerator
akan menghasilkan bahan yang sesuai untuk pekerjaan perbaikan yang cepat.
Selain itu semen magnesium phosphate baik untuk pekerjaan penambalan. - Dry
Pack, istilah ini biasanya digunakan untuk mortar dengan bahan dasar semen
Portland dengan kandungan air yang cukup rendah sehingga tidak mengalami
slump.Sebenarnya setiap material yang dapat digunakan dengan konsistensi
sedemikian rupa sehingga tidak mengalami slump (no-slump consistency) dapat
disebut dry pack, - Beton serat, beton serat memiliki kekuatan tarik, kekuatan
lentur, daya tahan terhadap impak dan daya tahan terhadap abrasi yang lebih
baik daripada beton biasa. Serat yang digunakan dapat berupa metal, plastic,
gelas atau serat natural. - Shotcrete, atau yang juga biasa disebut sprayed
concrete atau sprayed mortar terdiri dari bahan-bahan pembentuk yang sama
seperti beton yaitu semen, agregat dan air. Perbedaan Shotcrete dengan beton
biasa adalah bahwa Shotcrete biasanya menggunakan agregat kerikil yang bulat
dan kandungan semennya lebih tinggi, selain itu water-cement rasio dari
Shotcrete lebih rendah- sekitar 0,4.
Material yang berbahan
dasar resin: Epoxy
Material ini umumnya
dibuat atas dasar epoxy resin dan meliputi resin untuk injeksi (injection
resins), mortar yang dapat dicor dan pasta yang dapat diterapkan dengan tangan.
Epoxy mortar terdiri dari resin hardener dan filler yang terdiri dari pasir
halus , sedangkan epoxy concrete terdiri dari resin, hardener, pasir halus dan
agregat kasar ukuran kecil.
Elastomeric Sealants
Bila retak yang diperbaiki mengalami
pergerakan yang berarti, pilihan untuk material yang digunakan sering jatuh
pada material ini. Dua tipe elastomeric sealant yang biasa dipakai :
hot-applied, yang biasanya merupakan campuran material yang bituminous dengan
karet yang kompatibel, cold applied yang dapat didasarkan atas berbagai
material dan biasanya harus dicampur di lapangan
Silicones
Biasanya
digunakan sebagai material perbaikan untuk masalah uap air melalui dinding. Ada
dua cara pembuatannya yaitu dengan melarutkan bahan silicone padat pada suatu
pelarut atau membuat garam alkali dari asam siliconic dan melarutkannya dalam
air. Larutan material ini disemprotkan ke dinding dengan kecepatan 3m2 /ltr dan
ketika pelarutnya menguap, silicon resin tertinggal di dalam struktur pori
dinding.
Bentonite
Merupakan
bubuk batuan yang diambil dari debu vulkanik yang mengandung mineral tanah liat
dengan persentase tinggi terutama sodium bentonite. Material ini dapat
mengabsorpsi air dalam kuantitas banyak dan mengembang sampai 30 kali volumenya
semula dan membentuk massa yang menyerupai jelly yang efektif berfungsi sebagai
penghalang air.
Bituminous
Coating
Yang berbahan dasar aspal atau coal ter sering
digunakan sebagai waterproofing pada beton atau untuk perlindungan terhadap
pelapukan
Jenis-jenis
kerusakan pada pekerjaan Lapisan Campuran Beraspal dan Jelaskan juga upaya
penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi
pada Pek. Lapisan Camouran Beraspal)
- Retak lelah dan deformasi pada
semua lapisan perkerasan aspal
Jenis kerusakan jalan aspal yang
berupa retak lelah dan deformasi di hampir semua lapisan jalan ini terutama
bisa ditemui di jalan-jalan antar provinsi. Penyebabnya tak lain banyaknya
kendaraan berat yang lalu lalang seperti bus dan truk. Beban kendaraan yang
berat mengakibatkan di setiap lapisan perkerasan terjadi regangan dan tegangan.
Beban kendaraan yang terus melintas pada akhirnya membuat munculnya retak lelah
serta deformasi.
Jika retak lelah dan deformasi
dibiarkan saja, maka ketika musim hujan bisa dipastikan air akan masuk ke dalam
retakan dan mengubah retakan menjadi lubang yang semakin lama semakin besar.
Karena itu sebaiknya begitu terjadi retak lelah dan deformasi, perbaikan harus
segera dilakukan dengan penambalan-penambalan.
Jalan-jalan dengan perkerasan
aspal sesungguhnya tidak cocok dilalui oleh jenis-jenis kendaraan berat.
Kendaraan berat sebaiknya diarahkan untuk melintasi jalan-jalan beton yang
memiliki struktur lebih kuat dibandingkan jalan-jalan dengan perkerasan aspal.
- Retak
Ada berbagai jenis retak yang
bisa terjadi pada jalan perkerasan aspal, antara lain retak kulit buaya, retak
pinggir, retak sambungan bahu, retak refleksi, retak susut, dan retak slip.
Salah satu faktor terbesar penyebab retak tersebut adalah buruknya sistem drainase
jalan. Karena itu, solusinya tak cukup hanya dengan menambal retakan-retakan
yang ada. Sistem drainase perlu dibangun sehingga jenis kerusakan yang sama
tidak terjadi lagi.
Sistem drainase yang baik untuk
perkerasan jalan aspal harus bisa membuang atau mengalirkan air dengan cepat ke
saluran drainase buatan ataupun ke sungai. Sistem drainase ini juga harus mampu
membuang air hujan atau air dari sumber-sumber lainnya dan mengendalikan air
bawah tanah yang bisa menyebabkan erosi atau kelongsoran. Sistem drainase yang
sudah dibangun harus benar-benar terawat dan berfungsi. Sistem drainase perlu
dibersihkan secara berkala dari sampah dan rumput agar tetap bisa mengalirkan
air dengan lancar.
Idealnya, pembangunan jalan
dengan perkerasan jalan aspal harus disertai pula dengan pembangunan sistem
drainase. Jika tidak, bisa dipastikan kerusakan jalan aspal tak bisa dihindari.
Dalam membangun sistem drainase jalan, ada beberapa hal yang penting untuk
diperhatikan antara lain, kondisi topografi sepanjang jalan untuk menentukan
bentuk dan kemiringan yang mempengaruhi aliran air, analisa curah hujan
maksimum dalam satu tahun pada daerah di area jalan aspal, dan perencanaan
sistem drainase agar tidak mengganggu drainase yang telah ada.
- Distorsi
Distorsi atau perubahan bentuk
pada perkerasan jalan aspal bisa terjadi dikarenakan tanah dasar yang lemah dan
pemadatan yang kurang optimal di lapisan pondasi. Distorsi yang terjadi pada
jalan aspal bisa berupa amblas, jembul, keriting dan alur.
Kerusakan jalan aspal berupa
distorsi tidak cukup diperbaiki hanya dengan melakukan penambalan saja.
Perbaikan kerusakan distorsi terbilang cukup rumit dan memakan waktu yang tak
sebentar. Distorsi pada jalan perkerasan aspal sebaiknya diperbaiki dengan
menggaruk kembali, dipadatkan kembali, lalu dilakukan penambahan lapisan
permukaan baru.
Tahap pemadatan pada proses
pembangunan jalan memang harus dilakukan dengan cermat. Pemadatan wajib
dilakukan untuk meningkatkan kekuatan tanah, memperkecil pengaruh air terhadap
tanah dan memperkecil daya rembesan air pada tanah. Tahap pemadatan ini
dilakukan lapisan demi lapisan sehingga diperoleh kepadatan yang ideal.
Tahap pemadatan ini umumnya
menggunakan alat bantu. Contohnya saja penggilas three wheel roller atau
penggilas Mac Adam dengan bobot antara 6 ton hingga 12 ton yang digunakan untuk
memadatkan material berbutir kasar, tandem roller dengan bobot antara 8 ton
sampai dengan 14 ton yang berfungsi untuk mendapatkan permukaan lapisan yang
agak halus, dan pneumatik tired roller yang cocok dipakai untuk penggilasan
tanah lempung, pasir dan bahan yang granular.
- Kegemukan
Kerusakan kegemukan yang
dimaksudkan berupa permukaan jalan aspal yang menjadi licin. Kerusakan ini
terjadi saat temperatur naik sehingga aspal menjadi lunak dan jejak roda
kendaraan akan membekas pada permukaan lapisan jalan. Kerusakan yang disebut
kegemukan ini biasanya terjadi pada jalan aspal yang menggunakan kadar aspal
tinggi pada campuran aspal atau dikarenakan pemakaian aspal yang terlalu banyak
pada tahapan prime coat. Kerusakan jenis ini biasanya dapat diatasi dengan
menghamparkan atau menaburkan agregat panas yan kemudian dipadatkan. Atau bisa
juga dilakukan pengangkatan lapisan aspal dan lantas diberi lapisan penutup.
- Lubang-lubang
Kerusakan jalan aspal berupa
lubang-lubang dapat terjadi ketika retakan-retakan dibiarkan tanpa perbaikan
sehingga akhirnya air meresap dan membuat rapuh lapisan-lapisan jalan.
Lubang-lubang yang awalnya kecil ini bisa berkembang menjadi lubang-lubang
berukuran besar yang dapat membahayakan pengguna jalan.
Lubang-lubang pada jalan aspal
tersebut bisa diperbaiki dengan membersihkan lubang-lubang terlebih dahulu dari
air serta dari material-material yang lepas. Setelah itu bongkar lapisan
permukaan dan pondasi sedalam mungkin agar bisa mencapai lapisan yang paling
kokoh. Barulah kemudian tambahkan lapisan pengikat atau tack coat. Lantas isi
dengan campuran aspal dengan cermat. Padatkan lapisan campuran aspal tersebut
dan haluskan permukaannya sehingga sama rata dengan permukaan jalan lainnya.
Lubang-lubang jalan aspal yang
ditambal tanpa dibersihkan atau dibongkar terlebih dahulu hanya akan
menghasilkan tambalan yang rapuh. Akibatnya lubang kembali terjadi hanya
beberapa saat setelah penambalan dilakukan.
- Pengausan
Kerusakan pengausan ditandai
dengan permukaan jalan aspal yang menjadi licin. Kerusakan ini sepertinya
terlihat sepele, padahal kenyataannya kerusakan ini bisa membahayakan pengguna
jalan. Kendaraan yang melintas menjadi lebih mudah tergelincir pada kondisi
jalan seperti ini.
Pengausan dapat terjadi dikarenakan
penggunaan agregat yang tidak tahan aus terhadap roda-roda kendaraan atau
agregat yang tidak berbentuk cubical, misalnya agregat berbentuk bulat dan
licin. Kerusakan semacam ini bisa diatasi dengan menutup area permukaan jalan
aspal yang rusak dengan buras, latasir atau latasbun.
- Stripping
Kerusakan stripping atau
pengelupasan lapisan permukaan dapat terjadi dikarenakan kurangnya ikatan
antara lapisan bawah jalan dan lapisan permukaan, atau lapisan permukaan yang
terlampau tipis. Untuk kerusakan seperti ini, langkah perbaikan yang bisa
dilakukan bukanlah dengan penambalan melainkan bagian yang rusak terlebih
dahulu harus digaruk, kemudian diratakan. Barulah setelah itu dilapisi dengan
buras.

Komentar
Posting Komentar